Senin, 11 November 2013

Manis

Senyummu seperti kata-kata para pejanji, manis sekali. Bahkan lebih manis dari itu, karena tidak ada dusta yang ikut campur di dalamnya. Tapi kamu lebih suka memamerkan gelak tawamu dan terkadang kerut di dahimu. Tak apa, sembunyikan saja senyummu, simpan untuk aku. Biar aku dan hanya aku yang menikmatinya. Beri aku satu setiap mata kita bertemu. Jangan berikan untuk yang lain, aku takut kehabisan. 

Senyummu itu seperti madu dan gula yang menjadi satu, manis sekali. Tapi kamu tak pernah tau bahwa aku penggemarnya. Kalau saja kita bertemu setiap hari dan kamu benar-benar menyimpannya untukku mungkin aku sudah obesitas sekarang, itulah kenapa aku hanya diam saja, menikmati manismu dari sisiku. Ah maaf aku tidak pandai membual. Aku tidak mau banyak membual jika itu tentang kamu, oh tidak aku benar-benar tidak membual untuk yang ini. 


Masih dengan senyummu yang selalu manis, kamu pernah bercermin tidak? bagaimana caranya memiliki senyum seperti itu? ah aku lupa, kamu selalu memilih tertawa atau berkerut. Mungkin aku bisa mengingatkanmu untuk tersenyum saja, ah aku lupa lagi, aku takut kehabisan stock jika kamu selalu tersenyum. Rumit sekali aku ini. Tak apalah biar aku saja yang rumit, rumit mencuri-curi dan mencari-cari senyum manismu. Dan semoga tetap seperti itu, senyum manismu dan aku :)

aku akan menulis'mu' lagi jika nanti sudah benar-benar menemukan'mu' di dunia nyataku