Amanah Berproses
Hari ini, 16 Januari 2014. Tepat tiga ratus tiga puluh tujuh senja yang lalu aku ditemukan dengan mereka, yang memberiku kesempatan untuk mengemban amanah. Terlihat sepele memang, tapi tidak buatku. Berat, dipaksa memberikan komentar, mengurus urusan beberapa orang lain, direpotkan dengan harus kesana-kemari, dan banyak hal lain yang membuat aku selalu mengeluh. Iya, aku mengeluh. Tapi disitulah aku sadar, mengapa jargon yang sederhana itu terasa tidak sesederhana itu, melayani dengan senyum bekerja dengan hati. Coba pikir, apa kamu masih bisa senyum jika di satu hari kamu harus naik turun tangga berkali-kali, menanti para petinggi yang disambut dengan tolakan, dan kamu masih harus tersenyum memberikan saran, pengertian dan solusi untuk urusan mereka yang selalu saja sama, satu per satu, silih berganti
Tapi, itulah prosesku, belajar bagaimana memahami kehidupan orang lain, meskipun ada yang nyata atau hanya meminta belas kasihan, itulah prosesku, peduli dan tanggap membantu sampai mereka tersenyum lega, itulah prosesku, mencoba memberikan pendapat yang entah itu dianggap sangat dangkal atau tidak. itulah prosesku, menikmati setiap keluhan tertahan dan lama-lama terbiasa untuk selalu bersyukur.
Dan ternyata sekarang aku malah mengeluh, mengeluh kenapa waktu cepat sekali berlalu, kenapa waktu tiga ratus tiga puluh tujuh senja itu seperti kemarin. Terimakasih telah memberiku amanah untuk berproses, terimakasih telah menjadikanku bagian dari kalian yang sangat hebat, terimakasih
berkat kalian aku berproses bahwa menjadi mahasiswa tidak harus tentang berapa IPK, terimakasih untuk membuatku mengerti bagaimana nikmatnya membantu sesama. Tetaplah bersama, berjuang dan berkarya dengan senyum dan hati. Dan terimakasih untuk tiga ratus tiga puluh tujuh senjanya, kalian adalah orang-orang hebat yang memaksaku untuk menjadi hebat, selamat berproses lagi manusia-manusia hebat :)